MAKALAH
Tentang
Akhlak Perjalanan
Disusun
untuk memenuhi tugas mata pelajaran AKIDAH
AKHLAK
Guru Pengampu:
Bp. Imron S.Pd.I
DISUSUN OLEH :
1. Wahid Hasyim (15)
1. Wahid Hasyim (15)
2. Kurniawati (06)
Kelas
XI IPA
MA
TARBIYATUL ISLAMIYAH THn.2013-2014
KEC.PUCAK
WANGI. KAB. PATI
KATA
PENGANTAR
Segala
puji hanya milik Allah, Tuhan yang menguasai seluruh alam raya ini, dan yang
senantiasa mengawasi makhluk-Nya serta mengkaruniakan kepada setiap makhluk
yang dikehindaki-Nya. Shalawat beserta salam semoga tercurah kepada suri
tauladan kita, Rosulullah SAW jaga kepada segenap keluarga, sahabat, serta umat
beliau hingga akhir zaman. Amin.
Dengan terselaisanya makalah yang berjudul “Akhlak
Perjalanan” berarti telah menyelesaikan salah satu syarat guna memenuhi tugas
yang telah ditetapkan oleh guru mapel Akidah Akhlak. Untuk terwujudnya makalah
ini penulis merasa berhutang budi atas bantuan yang tidak ternilai harganya,
dan tidak lupa penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang
telah membantu terselesainya makalah ini diantaranya yaitu:
1. Bp.
Imron S Pd.I selaku guru mapel yang telah banyak memberi petunjuk demi
tercapinya tugas ini.
2. Ayahanda
dan Ibunda tercinta yang selalu memberikan motivasi dengan cinta, dan atas
restunya yang selalu penulis harapkan
3. Saudara-saudaraku
di MA Tarbiyatul Islamiyah yang selalu memberikan ukhuwah yang indah kepada
penulis dan atas dukungan serta do’anya, syukron
jazakumullah, I love you all.
4. Dan
semua pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu.
Dalam penyusunan
makalah ini penulis menyadari banyak sekali kesalahan yang disebabkan kurangnya
wawasan dan pengetahuan dari penulis. Untuk ini penulis mengharapkan kritikan
dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat dan
dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Pucakwangi, januari 2014
Penulis 2 Penulis1
Kurniawati Wahid Hasyim
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL.........................................................................................................i
KATA PENGANTAR.............................................................................................................ii
DAFTAR ISI............................................................................................................................iii
BAB
I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang...................................................................................................................1
B. Rumusan
Masalah..............................................................................................................1
C. Tujuan................................................................................................................................1
BAB
II PEMBAHASAN
A. Pengertian
Akhlak Perjalanan............................................................................................2
B. Bentuk
akhlak Perjalanan..................................................................................................3
C. Ketika
sampai da kembali dari perjalanan.........................................................................5
D. Nilai
positif akhlak perjalanan ..........................................................................................5
E. Membiasakan
akhlak perjalanan........................................................................................6
F. Permasalahan
penting dalam safar.....................................................................................7
G. Hikmah...............................................................................................................................9
BAB
III PENUTUP
A. Kesimpulan......................................................................................................................10
B. Saran................................................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................11
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pada masyarakat modern saat ini ,
perjalana (safar) menjadi bagian mobilitas kehidupan. Artinya semakin maju ingkat kehidupan seseorang , maka akan
semakin sering seseorang melakukan
perjalanan untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan tujuan. Pada masa Rosulullah,
perjalanan untuk berbagi keperluan ( terutama berdagang) telah menjadi tradisi
masyarakat Arab sebelum Islam datang. Pada musim tertentu seperti musim panas
maupun hujan masyarakat Arab melakukan perjalanan ke berbagai tempat dengan
berbagi keperluan. Untuk memberikan gambaran rinci tentang akhlak dalam
perjalanan, berikut akan di uraikan; pengertian akhlak perjalanan, bentuk
akhlak perjalanan , nilai positif akhlak perjalanan, membiasakan akhlak
perjalanan dalam perilaku hidup.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian akhlak perjalanan?
2.
Apa adab akhlak perjalanan dalam islam ?
3. Apa Nilai positif akhlak
perjalanan.
4. Apa hikmah dari perjalanan?
C.
Tujuan
1.
Menjelaskan pengertian akhlak perjalanan.
2.
Menjelaskan adab akhlak perjalanan dalam islam.
3. Menjelaskan Nilai positif akhlak
perjalanan.
4.
Mengetahui Hikmah akhlak perjalanan .
BAB
II
PEMBAHASAN
1.Pengertian Akhlak Perjalanan
Perjalanan
dalam bahasa arab disebut dengan
kata “rihlah atau safar’. Dalam bahasa Arab, bepergian dinamakan safar yakni
menempuh perjalanan. sedang yang melakukan perjalanan /bepergian dinamakan musafir.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,
perjalana diartikan; “ perihal(cara, garakan) berjalan atau berpergian dari
suatu tempat ke tempat yang lain untuk suatu tujuan”. Secara istilah, perjalanan sebagai aktifitas
seseorang untuk keluar ataupun untuk meninggalkan rumah dengan berjalan kaki
ataupun menggunakan berbagai macam sarana transportasi yang mengantarkan sampai
ke tempat tujuan dengan maksud ataupun tujuan tertentu. Dalam istilah fiqih, kata safar diartikan dengan, keluar
bepergian meninggalkan kampung halaman dengan maksud menuju suatu tempat dengan
jarak tertentu yang membolehkan seseorang yang bepergian untuk menqashar sholat
Dengan demikian rumah tinggal merupakan start awal dari
semua jenis perjalanan yang dilakukan setiap orang, sedangkan finisnya berada
pada tempat yang menjadi tujuan setiap perjalanan. Namun demikian setelah
seorang sampai pada tempat tujuan dan telah menemukan ataupun mendapatkan
sesuatu yang dicari, maka pada suatu saat mereka akan kembali ke rumah.
Perjalanan yang demikian ini kemudian yang dikenal dengan istilah pulang
pergi(PP)
Perjalanan pulang pergi secara berkesinambungan
menunjukkan adanya mobilisasi yang tinggi dan menjadi ciri masyarakat modern.
Apabila pada suatu kampung, sebagaian masyarakatnya melakukan perjalanan pulang
pergi pada setiap harinya, maka hal tersebut menunjukkan adanya mobilisasi
masyarakat dan menjadi pertanda kemajuan dan kesejahteraan masyarakatnya.
Pada masyarakat modern, perjalanan (safar) menjadi bagian
dari mobilisasi kehidupan,artinya semakin maju kehidupan seseorang, maka akan
semakin sering seseorang melakukan perjalanan untuk berbagai tujuan. Pada masa Rosulullah,perjalanan
untuk berbagi keperluan (terutama berdagang) telah menjadi tradisi masyarakat
arab. Pada musim tertentu masyarakat arab melakukan perjalanan ke berbagai
tempat untuk berbagai keperluan.
Terdapat
beberapa perjalanan yang dianjurkan oleh Islam, di antaranya:
1.
Pergi Haji 3.menuntut
ilmu
2.
Umrah 4.berdakwah
3.
menyambung silaturahmi 5.berperang
dijalan Allah
2.Bentuk
Akhlak Perjalanan
Islam mengajarkan, agar
setiap perjalanan yang dilakukan bertujuan untuk mencari ridho Allah.
sebagaimana disinyalir oleh Rasulullah Saw. dalam sabdanya :
“Tidak seorang keluar
meninggalkan rumahnya, kecuali di pintu rumahnya ada panji. Sebuah di tangan
malaikat dan sebuahnya lagi di tengan setan. Kalau tujuannya kepada apa yang
diridhai (disenangi) Allah Azza wa Jalla, maka dia diikuti malaikat dengan
panjinya sampai dia pulang ke rumahnya. Apalagi tujuannya yang dimurkai Allah,
maka setan dengan panjinya mengikutinya sampai dia pulang ke rumahnya.”
(HR.Ahmad).
Di
antara jenis perjalanan (safar) yang dianjurkan dalam islam yaitu pergi haji,
umrah,menyambung silaturrahmi, menuntut ilmu, berdakwah, berperang di jalan
Allah, mencari karunia Allah dan lain-lain. Perjalanan (safar) juga berfungsi
untuk menyehatkan dan merefresing kondisi jasmani dan rohani dari kelelahan dan
kepenatan dalam menjalani suatu aktifitas.
Ibadah haji adalah bentuk safar yang
wajib bagi muslim yang mampu. Hal ini pula yang mendorong umat islam dari
seluruh dunia untuk datang berkunjung ke baitullah (rumah Allah) di kota mekah.
Karena itu sejak abad pertama hijriyah umat islam sudah mengenal dan mengarungi
lautan. Dalam perjalanan hajinya itu sering kali mereka singgah di beberapa
pelabuhan, sehingga membuka bagi rombongan haji itu untuk berniaga dan
sekaligus berdakwah. Sebagai pedoman
Islam mengajarkan adab dalam melakukan perjalanan yaitu:
1) Bermusyawarah
dan sholat Istikhoroh;
2) Mengembalikan
hak dan amanat kepada pemiliknya;
3) Membawa
enam benda: gunting,siwak,tempat celak, tempat air keperluan minum cebek dan
wudhu. Hal tersebut di sunnahkan Rosulullah; dan baik sekali dalam perjalanan
itu membawa enam benda tersebut.
4) Menyertakan
istri ataupun anggota keluarganya;
5) Wanita
menyertakan teman atau muhrimnya;
6) Memilih
kawan pendamping yang sholeh dan sholehah;
7) Mengangkat
pemimpin atu ketua rombongan;
8) Mohon
pamitan kepada keluarga dan handai taulan serta mohon doa;
9) Memilih hari Kamis dan salat dua
rakaat sebelum berangkat.
10) Menolong kawan sepanjang jalan.
11) Tidak lama meninggalkan Istri.
12) Takbir tiga kali dan berdoa.
13) Jangan pulang mendadak.
14) Salat dua rakaat.
Sebagai pedoman Islam mengajarkan adab dalam melakukan perjalanan yaitu :
1. Semua perjalanan dilakukan dengan
niat semata-mata karena Allah SWT.
2. Sunnah mengerjakan shalat sunnah dua
atau empat rakaat sebelum memulai
Perjalanan. (HR.Thabrani)
Perjalanan. (HR.Thabrani)
3. Ketika keluar rumah disunnahkan
membaca do’a : Bismillaahi Tawakkaltu ‘alalloohi Laa hawla walaa quwwata
illa billaahil ‘aliyyil ‘adzhiim/ Dengan nama Allah aku bertawakkal kepada
Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali kepada Allah” (HR Abu Dawud, Hakim)
4. Sunnah menaiki kendaraan dengan
membaca Bismillah, kemudian duduk
dengan membaca Alhamdulillah (Misykat)
dengan membaca Alhamdulillah (Misykat)
5. Ketika mulai memasuki kendaraan,
disunnahkan membaca do’a : Subhaanalladzii sakhkhoro lanaa haadza wamaa
kunnaa lahu muqriniin wa Innaa ilaa robbinaa lamunqolibuun/Maha suci Allah,
yang memudahkan ini bagi kami, padahal kami tidak sanggup mengendalikannya. Dan
sungguh kami akan kembali kepada Rabb kami.
6. Jika tiba di tempat tujuan,
disunnahkan membaca do’a Robbi Anzilnii Munzalan Mubaarokan Wa Anta Khoirul
Munziliin/ Ya Allah, Turunkanlah kami di tempat yang penuh berkah.
Dan Engkau sebaik-baik Pemberi tempat.
7. Boleh menjama’ shalat dan
atau mengqasar dalam perjalanan pada dua waktu, yaitu : Shalat Zhuhur
dan Ashar, Shalat Magrib dan Isya.
“ dan apabila kamu bepergian di muka
bumi, Maka tidaklah mengapa kamu menqashar sembahyang(mu)…” (An Nisa’ : 101).
Anas bin Malik ra berkata, “Kami
bersama Rasulullah saw. keluar dari Madinah ke Makkah, dan beliau mengerjakan
shalat-shalat empat raka’at dengan dua raka’at hingga kita kembali ke Madinah.”
(HR. An Nasai dan At-Tirmidzi).
Muadz bin Jabal ra berkata, “Kami
keluar bersama Rasulullah saw. pada Perang Tabuk, kemudian beliau kerjakan
shalat Dzuhur dan shalat Ashar secara jamak, dan mengerjakan shalat Maghrib dan
shalat Isya’ secara jamak.” (Muttafaq Alaih).
3.Ketika
Sampai dan Kembali dari Perjalanan
1. Takbir
Tiga Kali dan Berdo’a. Setelah melakukan perjalanan atau dari medan perang,
Rasulullah Saw. mengucapkan takbir tiga
kali, lalu mengucapkan (artinya) : “Tiada sembahan selain Allah Yang Maha Esa,
tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi Allah kekuasaan dan pujian dan Dia mampu
melakukan segala sesuatu. Kami pulang kembali bertobat, beribadah dan kepada
Allah kami bertahmid.”
2. Jangan Pulang Mendadak. Rasulullah Saw. bila
pulang larut malam, beliau tidak langsung mengetuk pintu, tetapi menanti sampai
besok pagi.
3. Shalat
Dua Raka’at. Sekembali dari perjalanan, Rasulullah Saw. memasuki masjid, sgalat
dua raka’at dan baru pulang ke rumah. Ketika memasuki rumah beliau mengucapkan
istighfar (astaghfirullah hal-’azim).
4.Nilai
Positif Akhlak Perjalanan
Setiap orang merasakan bahwa
perjalanan (safar) baik menggunakan transportasi darat, laut, maupun udara,
merupakan beban berat (siksaan). Namun kegiatan safar untuk berbagai keperluan
tetap diminati setiap orang. Setiap perjalanan memuliki resiko yang tinggi,
namun setiap orang mempunyi keyakinan dan semangat yang tinggi. Melakukan
perjalanan untuk berbagai tujuan dan keperluan akan terus berkembang seiring
dengan kemajuan zaman.
Safar
adalah suatu kelaziman dan keharusan bagi setiap orang,untuk mengembangkan dan
mendapatkan pengalaman, wawasan ataupun pola kehidupan baru bahkan dapat
meningkatkan kualitas diri serta tingkat kesejahteraan dalam kehidupan yang
bisa didapat dalam safar tersebut. Imam Ghozali berpendapat: “bersafarlah,
sesungguhnya dalam safar memiliki beragam keuntungan”.
Imam Gazali
mengatakan bahwa “Bersafarlah, sesungguhnya dalam safar memiliki beragam keuntungan”.
Keuntungan melakukan perjalanan
diantaranya yaitu:
1. Safar
dapat menghibur diri dari kesedihan
2. Safar
menjadi sarana bagi seorang untuk mencari hasil usaha (mata pencaharian)
3. Safar
juga dapat mengantarkan seseorang untuk memperoleh tambahan pengalaman dan ilmu
pengetahuan.
4. Dengan
safar , maka seorang akan lebih banyak mengenal adab kesopanan yang berkembang
pada suatu komunitas masyarakat.
5. Perjalanan
akan dapat menambahkan wawasan dan bahkan kawan yang baik dan mulia.
5.Membiasakan
Akhlak Perjalanan
Secara
nalurial setiap manusia mempunyai semangat yang tinggi untuk melakukan
perjalanan pada saat ia membutuhkansafar tersebut, baik dekat maupun jauh, baik
sendiri maupun berkelompok. Pada kenyataannya perjalanan dapat memberikan
manfaat yang besar, terutama menambah wawasan , pengalaman bahkan kebanggaan
terhadap segala hal yang diperoleh selama melakukan safar.
Sebaiknya setiap orang memikirkan
terlebih dahulu secara matang terhadap semua perjalanan yang akan dilakukan.
Apakah niat dalam melakukan perjalanan sudah benar yaitu untuk beribadah atau
suatu hal yang bermanfaat, jika niat melakukan perjalanan untuk suatu hal yang
tidak jelas, maka sebaiknya di tangguhkan bahkan bila dalam melakukan safar
tersebut akan banyak membuat madharat
bahkan cenderung pada kemaksiatan maka safar harus dibatalkan. Segala keperluan
ataupu bekal selama perjalanan harus dipersiapkan secara lengkap dan
matang.jangan biasakan membawa persiapan ala kadarnya dalam perjalanan,
karena
hal itu akan menyulitkan diri sendiri. Semua kemungkinan dan resiko yang
terjadi
selama
perjalanan harus diantisipasi dan diwaspadai, dengan cara ini perjalanan akan
tetap menyenangkan, namun sebaiknya jika resiko perjalanan menjadi tidak nyaman
dan membosankan karena dihadapkan suatu masalah yang tidak diperhitungkan dan
bahkan akan menghadapi kendala yang menghambat perjalanan.
Usahakan
dalam melakukan safar atau rihlah dengan memperhitungkan jadwal yang
matang,akurat,rinci dan jelas agendanya. Perjalanan yang disertai dengan agenda
yang jelas, maka semua aktifitas yang dilakukan selama perjalanan akan dapat
terlaksana dengan baik dan nyaman. Sebaliknya jika suatu perjalanan tanpa
adanya agenda yang jelas , maka akan cenderung menyia-nyiakan waktu, biaya
ataupun energi, dan bahkan akan membuka celah bagi syaiton untuk menyesatkan dan akhirnya
tujuan dari safar tidak tercapai.
Jika
sudah selesai melakukan perjalanan, bersyukur dan renungkanlah segala hal yang
ditemukan dan dialami selama dalam perjalanan. Jadikan semua pengalaman sebagai
media untuk meningkatkan kesadaran diri dan pelajaran agar lebih baik dan
bermanfaat dalam menjalani kehidupan selanjutnya. Jadilah orang yang pandai
bersyukur dengan meningkatkan kualitas iman, ilmu dan amal sholih. Berbekal
ketiga hal tersebut, setiap manusia akan selamat dalam mengarungi perjalanan
baik pada saat di dunia maupun di alam akherat kelak.
6.Beberapa Permasalahan Penting Dalam Safar
1. mengqashar Bagi
orang yang dalam perjalanan disyareatkan untuk shalatnya semenjak ia keluar
dari daerahnya.
2. Jika telah masuk waktu shalat dan ia dalam keadaan mukim, lalu ia safar, kemudian ia shalat dalam safarnya, maka apakah ia shalat sempurna atau qashar ? Jawaban yang benar adalah qashar.
2. Jika telah masuk waktu shalat dan ia dalam keadaan mukim, lalu ia safar, kemudian ia shalat dalam safarnya, maka apakah ia shalat sempurna atau qashar ? Jawaban yang benar adalah qashar.
3. Jika dalam
perjalanan ia teringat shalat yang mestinya ia lakukan di saat mukim, maka ia
shalat secara sempurna2, dan jika ingat di saat mukim, shalat yang semestinya
ia lakukan dalam safar, maka dalam hal ini terdapat perselisihan pendapat
apakah ia menyempurnakan shalatnya atau mengqashar. Pendapat yang benar adalah
mengqashar (shalat).
4. Jika seorang
musafir shalat di belakang orang yang mukim, maka ia shalat empat rakaat secara
mutlak meski tidak ia dapatkan kecuali tasyahud. Shalatnya seperti halnya orang
yang mukim, empat raka’at.
5. Jika orang yang
musafir shalat bersama jamaah yang mukim, maka ia mengqashar shalat.
6. Sunnah-sunnah Rawatib yang tidak dilakukan dalam perjalanan adalah shalat sunnah qabliyah dan ba’diyah Dzuhur, ba’diyah maghrib dan ba’diyah isya’. Adapun shalat sunnah qabliyah fajar dan shalat witir, maka tetap dilakukan. Orang yang musafir juga bisa melakukan Shalat Dhuha, shalat sunnah wudhu dan shalat tahiyatul masjid.
7. Yang disunnahkan adalah meringankan bacaan surat (dalam shalat) ketika dalam perjalanan.
8. Jika ia (orang yang musafir) menjamak shalat, maka hendaknya dikumandangkan adzan satu kali dan dua kali iqamat. Satu shalat satu iqamat. Ia boleh menjamak di awal waktu, pertengahannya atau akhirnya. Pada waktu-waktu tersebut adalah saat untuk menjamak dua shalat.
9. Menjamak antara dua shalat dalam perjalanan adalah sunnah ketika Dibutuhkan.
10. Mereka yang tidak diwajibkan menghadiri shalat jum’at seperti musafir dan orang yang sedang sakit, maka boleh bagi mereka untuk menunaikan Shalat Dzuhur setelah tergelincirnya matahari, walaupun imam belum memulai shalat jum’at.
11. Musafir boleh melakukan shalat sunnah di atas mobil atau pesawat, sebagaimana diriwayatkan dari banyak jalan, dari nabi yang shalat sunnah di atas hewan tunggangannya.
12. Setiap orang yang dibolehkan untuk mengqashar shalat, maka boleh pula baginya untuk berbuka (tidak berpuasa), dan tidak sebaliknya.
6. Sunnah-sunnah Rawatib yang tidak dilakukan dalam perjalanan adalah shalat sunnah qabliyah dan ba’diyah Dzuhur, ba’diyah maghrib dan ba’diyah isya’. Adapun shalat sunnah qabliyah fajar dan shalat witir, maka tetap dilakukan. Orang yang musafir juga bisa melakukan Shalat Dhuha, shalat sunnah wudhu dan shalat tahiyatul masjid.
7. Yang disunnahkan adalah meringankan bacaan surat (dalam shalat) ketika dalam perjalanan.
8. Jika ia (orang yang musafir) menjamak shalat, maka hendaknya dikumandangkan adzan satu kali dan dua kali iqamat. Satu shalat satu iqamat. Ia boleh menjamak di awal waktu, pertengahannya atau akhirnya. Pada waktu-waktu tersebut adalah saat untuk menjamak dua shalat.
9. Menjamak antara dua shalat dalam perjalanan adalah sunnah ketika Dibutuhkan.
10. Mereka yang tidak diwajibkan menghadiri shalat jum’at seperti musafir dan orang yang sedang sakit, maka boleh bagi mereka untuk menunaikan Shalat Dzuhur setelah tergelincirnya matahari, walaupun imam belum memulai shalat jum’at.
11. Musafir boleh melakukan shalat sunnah di atas mobil atau pesawat, sebagaimana diriwayatkan dari banyak jalan, dari nabi yang shalat sunnah di atas hewan tunggangannya.
12. Setiap orang yang dibolehkan untuk mengqashar shalat, maka boleh pula baginya untuk berbuka (tidak berpuasa), dan tidak sebaliknya.
13. Bepergian di Hari
Jum’at adalah dibolehkan.
14. Dzikir yang diucapkan
setelah shalat yang pertama pada shalat jama’ tidak dilakukan.
15. Tidak disyaratkan dalam safar niat untuk mengqashar (shalat).
15. Tidak disyaratkan dalam safar niat untuk mengqashar (shalat).
16. Banyak para ulama
yang melarang untuk menjama’ Shalat Ashar dan Jum’at.
17. Mengqashar shalat hukumnya adalah sunnah muakkad, ada pula yang mengatakan wajib.
17. Mengqashar shalat hukumnya adalah sunnah muakkad, ada pula yang mengatakan wajib.
18. Dibolehkannya
mengqashar shalat adalah umum, baik itu safar dalam rangka ketaatan maupun
maksiat. Inilah pendapat yang benar dan dipilih oleh Syaikhul Islam (Ibnu
Taimiyyah).
19. Seorang wanita
tidak boleh bepergian kecuali bersama muhrimnya yaitu suami atau setiap
laki-laki yang sudah baligh, berakal yang haram atasnya wanita tersebut
selamanya, karena nasab maupun sebab yang dibolehkan.
20. Jika musafir
menjama’ antara Shalat Maghrib dan Isya’ jama’ taqdim, maka baginya telah masuk
waktu Shalat Witir. Inilah pendapat yang kuat dari para ulama, dan tidak perlu
menunggu sampai datangnya waktu Shalat Isya.
21. Jika seorang
musafir menjadi makmum dan ia ragu apakah imam orang yang mukim atau juga
musafir, maka pada asalnya seorang makmum diharuskan untuk menyempurnakan.
Tetapi jika si makmum berniat jika imam menyempurnakan shalat, maka aku juga
akan menyempurnakan dan jika imam mengqashar aku juga akan mengqashar, maka hal
itu adalah dibolehkan. Ini adalah bab menggantungkan niat dan bukan karena
keraguan.
22. Shalat Jum’at tidak diharuskan atas orang musafir yang sedang tinggal di sebuah negeri selama ia masih berstatus musafir.
22. Shalat Jum’at tidak diharuskan atas orang musafir yang sedang tinggal di sebuah negeri selama ia masih berstatus musafir.
23. Jika orang yang
musafir mendapatkan Shalat Jum’at, maka hal itu mencukupinya dari Shalat Dzuhur
(maksudnya ia tidak perlu Shalat Dzuhur lagi), baik ia mendapatkan dua raka’at
atau satu raka’at (bersama imam), lalu ia sempurnakan. Tetapi jika kurang dari
satu raka’at, maka pendapat yang benar, ia boleh mengqashar .
24. Jika ia bepergian
di Bulan Ramadhan, maka ia boleh berbuka dan juga boleh berpuasa.
7.Hikmah
Sebaiknya setiap orang memikirkan
terlebih dahulu secara matang terhadap semua perjalanan. Niat kita harus lah
baik, ingin beribadah kepada Allah SWT. Apabila melakukan safar atau Rihlah
dengan perhitungan jadwal yang matang, akurat , rinci dan jelas agendanya.
Sebaiknya jika suatu perjalanan tanpa adanya agenda yang jelas, maka akan
cenderung menyia-nyiakan waktu, biaya ataupun Energi, dan bahkan akan membuka celah
bagi syaitan untuk menyesatkan dan akhirnya tujuan Safar tak tercapai. Dan kita
harusnya bersyukur jika kita sudah berhasil melakukan perjalanan.
BAB III
PENUTUP
1.Kesimpulan
Perjalanan didefinisikan sebagai
“aktivitas seseorang untuk keluar ataupun meninggalkan rumah dengan berjalan
kaki ataupun menggunakan berbagai sarana transportasi yang mengantarkan sampai
pada tempat tujuan dengan maksud ataupun tujuan tertentu”
Supaya umatnya selalu dalam ridha Allah, Islam telah mengajarkan beberapa tuntunan adab dan etika dalam melakukan perjalanan, yaitu akhlak Sebelum Perjalanan,Dalam Perjalanan, dan Ketika Sampai dan Kembali dari Perjalanan.
Supaya umatnya selalu dalam ridha Allah, Islam telah mengajarkan beberapa tuntunan adab dan etika dalam melakukan perjalanan, yaitu akhlak Sebelum Perjalanan,Dalam Perjalanan, dan Ketika Sampai dan Kembali dari Perjalanan.
2.Saran
Sebelum
melakukan perjalanan biasakan untuk memikirkan tujuannya, apakah perjalanan itu
bernilai ibadah dan bermanfaat atau hanya sia-sia saja. Jika niat melakukan
perjalanan tidak jelas, maka sebaiknya ditangguhkan ataupun dibatalkan. Segala
keperluan dan bekalselama perjalanan harus disiapkan dengan lengkap, jangan
biasakan membawa persiapan alakadarnya, agar nanti tidak menemui kesulitan di
perjalanan.
DAFTAR PUSTAKA